Pendahuluan
Amerika Serikat sering dipuja sebagai Tanah Harapan—sebuah Kanaan modern bagi mereka yang tertindas, lapar, dan terusir dari tanah asalnya. Kisah ini serupa dengan kisah eksodus bangsa Israel: keluar dari penindasan menuju negeri yang menjanjikan kehidupan baru.
Namun pernyataan Donald Trump bahwa “imigran ilegal jangan masuk Amerika hanya untuk cari makan; Amerika hanya menerima orang yang punya skill dan modal” menandai pergeseran radikal. Amerika kini bukan lagi tanah perjanjian, melainkan gerbang kapitalis, seleksi ekonomi yang dingin dan eksklusif.
Pembahasan
Pendukung Trump melihat kaum imigran dari kacamata negara modern: efisiensi, produktivitas, dan kepentingan nasional. Imigrasi berbasis skill dianggap wajar—bahkan perlu—agar negara tidak “dibanjiri” orang miskin yang dinilai hanya mencari nafkah. Dalam kerangka ini, lembaga seperti CBP berfungsi sebagai penjaga pintu gerbang, sementara ICE menjadi alat penegakan hukum terhadap mereka yang melanggar.
Semuanya mengandung logika kemunafikan struktural. Amerika menikmati hasil kerja imigran ilegal tak berdokumen di sektor-sektor yang paling melelahkan dan paling tidak bergengsi: pertanian, konstruksi, kebersihan, dan jasa. Mereka bekerja tanpa perlindungan, upah layak, dan jaminan hukum—tetapi ketika bersuara, mereka disebut “beban”.
Di sinilah politisi seperti Ilhan Omar berani bersuara. Baginya, imigrasi bukan soal statistik, tetapi soal martabat manusia. Kritiknya terhadap ICE bukan penolakan hukum, melainkan penolakan terhadap cara penegakan hukum yang dehumanistik: penahanan keluarga, deportasi mendadak, dan ketakutan sistemik di komunitas imigran.
Ketika Retorika Menjadi Kekerasan
Ironisnya, protes atas ketidakadilan justru dibalas dengan kebencian. Dalam iklim politik penuh retorika anti-imigran, bahasa kekuasaan dapat berubah menjadi kekerasan nyata—menciptakan ancaman dan intimidasi bagi mereka yang memilih berdiri di sisi kemanusiaan.
Analisa
Masalah utama imigrasi AS hari ini bukan kekurangan aturan, melainkan krisis nilai. USCIS menawarkan jalur legal yang panjang, mahal, dan lambat—hampir mustahil bagi orang miskin. CBP menyaring manusia di perbatasan seperti komoditas. ICE, yang seharusnya menegakkan hukum secara proporsional, justru menjadi simbol ketakutan.
Ketika negara hanya mengukur manusia dari skill dan modal, Amerika tidak lagi menyerupai Kanaan, melainkan bursa tenaga kerja raksasa. Retorika Trump memperjelas arah ini: Amerika bukan tempat berlindung, melainkan tempat serigala dalam seleksi alam.
Rekomendasi
1. Akui Peran Vital Pekerja Kasar
Reformasi imigrasi harus mengakui peran vital pekerja kasar, bukan hanya profesional elit yang punya sertifikat dan jejaring.
2. Batasi Kewenangan ICE dengan Standar Kemanusiaan
Kewenangan ICE perlu dibatasi dengan pengawasan ketat dan standar kemanusiaan agar penegakan hukum tetap proporsional.
3. Permudah dan Percepat Proses Legal USCIS
Proses legal di USCIS harus dipermudah dan dipercepat agar jalur sah tidak hanya tersedia bagi mereka yang punya biaya.
4. Tanggung Jawab Bahasa Elite Politik
Elite politik wajib bertanggung jawab atas bahasa yang mereka gunakan—karena retorika bisa membentuk kebijakan, dan kebijakan bisa memantik kekerasan.
Kesimpulan
Jika Amerika menutup pintu bagi yang lapar dan hanya membuka karpet merah bagi yang kaya, maka Amerika telah meninggalkan mitosnya sendiri. Ia bukan lagi Tanah Harapan, bukan Kanaan, melainkan negeri yang lupa bahwa ia dibangun oleh para pengembara.
Daftar Pustaka
- 1. U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE). ice.gov.
- 2. U.S. Customs and Border Protection (CBP). cbp.gov.
- 3. U.S. Citizenship and Immigration Services (USCIS). uscis.gov.
- 4. Omar, I. Pernyataan resmi kebijakan imigrasi. omar.house.gov.
- 5. AP News & Reuters – laporan isu imigrasi dan kekerasan politik AS.

