Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa

Nasional14 Februari 2026
639 pembaca

INDONESIA BISA BUBAR ERA ALGORITMA ?

Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis & Analis

Indonesia Bisa Bubar Era Algoritma

Pendahuluan

Kita hidup di zaman ketika kebenaran bisa dipalsukan dalam hitungan menit, wajah bisa dimanipulasi, suara bisa ditiru, dan opini publik bisa direkayasa oleh mesin. Perdebatan politik hari ini bukan lagi soal ideologi, melainkan soal kepercayaan. Dan ketika kepercayaan runtuh, negara tinggal menunggu waktu. Pertanyaannya: apakah republik ini cukup kuat menghadapi era algoritma?

Pembahasan

Sejarah membuktikan, Kekaisaran Romawi tidak jatuh dalam semalam. Ia membusuk dari dalam — korupsi, krisis ekonomi, konflik elite, dan hilangnya loyalitas rakyat. Contoh lain, Uni Soviet bubar bukan hanya karena tekanan faktor luar, tetapi karena sistemnya kehilangan legitimasi di mata warganya sendiri.

Sekarang ini, secara real time, kita menghadapi senjata baru: kecerdasan buatan. Contohnya deepfake yang digunakan untuk membuat atau memanipulasi video, foto, atau suara seseorang agar terlihat dan terdengar seperti asli dan nyata—padahal itu palsu. Hal ini dapat memicu para politikus saling menyerang lawan politik dengan propaganda seolah-olah itu benar, padahal palsu, sehingga efeknya bisa berupa kerusuhan sebelum klarifikasi datang. Contoh nyata: Prabowo dan Jokowi pernah menjadi korban deepfake.

Akibat disinformasi itu bisa menyulut kebencian masyarakat dalam skala nasional. Yang lebih gila lagi, serangan siber dapat melumpuhkan listrik, bank, bahkan sistem pertahanan. Semua ini bukan fiksi ilmiah. Ini realitas digital.

Masalahnya bukan pada AI. Masalahnya adalah: apakah negara memiliki fondasi moral dan institusional yang cukup kuat untuk menahan guncangan itu?

Analisa

Mari jujur. Negara kita tidak akan bubar oleh karena ulah mesin, tetapi bisa bubar karena hilangnya kepercayaan publik. Ketika rakyat lebih percaya rumor daripada institusi, lebih percaya potongan video AI palsu daripada proses hukum, dan lebih percaya teori konspirasi daripada data resmi—saat itulah republik mulai retak. AI hanya mempercepat proses pembusukan itu.

Di negara dengan tata kelola lemah, algoritma bisa menjadi bensin di atas api polarisasi. Di negara dengan transparansi rendah, manipulasi digital mudah berkembang. Di masyarakat dengan literasi rendah, kebohongan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.

Sementara itu, dunia tidak menunggu. Lembaga seperti International Atomic Energy Agency mengawasi ancaman nuklir global, tetapi siapa yang mengawasi perang algoritma? Siapa yang memastikan stabilitas psikologis bangsa di tengah serangan informasi tanpa henti?

Jika negara gagal beradaptasi, AI tidak perlu menghancurkannya, tetapi negara akan melemah dengan sendirinya.

Rekomendasi

1. Literasi Digital sebagai Prioritas Nasional

Literasi digital harus menjadi program inti negara, bukan sekadar slogan.

2. Regulasi AI yang Tegas namun Cerdas

Cukup kuat mencegah penyalahgunaan, cukup fleksibel mendorong inovasi.

3. Transparansi Politik untuk Menutup Ruang Spekulasi

Perbaiki akses informasi dan akuntabilitas agar rumor tidak jadi "kebenaran" publik.

4. Keamanan Siber sebagai Pertahanan Strategis

Posisikan keamanan siber setara pertahanan militer dalam strategi nasional.

Kesimpulan

Negara kita bisa bubar bukan karena teknologi, tetapi karena elite gagal menjaga integritas dan rakyat kehilangan kepercayaan. AI hanyalah cermin. Ia akan memperlihatkan seberapa kokoh fondasi kita.

Pertanyaannya kini bukan lagi "apakah AI berbahaya?" Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup dewasa untuk menghadapinya?

Jika jawabannya tidak, maka yang runtuh bukan algoritma. Yang runtuh adalah kita.

Daftar Pustaka

  1. Diamond, Jared. Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed. New York: Penguin, 2005.
  2. Nye, Joseph S. The Future of Power. New York: PublicAffairs, 2011.
  3. Schwab, Klaus. The Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum, 2016.
  4. International Atomic Energy Agency (IAEA). Safeguards and Nuclear Verification Reports. Vienna.

Bagikan Artikel

Tinggalkan Komentar

0/500 karakter

Komentar (0)

Memuat komentar...

Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa. Tempat berbagi cerita, refleksi, opini, analisis dan pandangan tentang kehidupan, iman, dan makna di tengah perjalanan waktu.

Kategori

Profil Penulis

Frits R Dimu Heo
Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis

Lulusan S1 Hukum dan S2 Program Pasca Sarjana Study Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bekerja di Bank NTT selama 30 tahun dan sekarang memilih menjadi pemerhati masalah sosial dan hukum.

Tinggal di Kota Kupang NTT menikmati hidup bersama keluarga (slow living).

© 2025 Perspektif Frits. Semua hak dilindungi.