Pendahuluan
Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Kota Kupang kembali menghadapi ancaman genangan air yang semakin meluas. Intensitas hujan meningkat sejak November 2025, dan banyak titik rawan—mulai dari jalan protokol hingga kawasan permukiman—telah tergenang. Situasi ini menjadi sorotan DPRD Kota Kupang, yang menilai bahwa genangan air bukan lagi persoalan musiman, melainkan pertanda nyata kegagalan tata kelola drainase dan lingkungan. Jika dibiarkan, genangan dapat berkembang menjadi bencana serius seperti banjir bandang yang baru-baru ini terjadi di Sibolga, Sitoli, Medan, hingga Denpasar.
Masalah Utama: Genangan Air dan Ancaman Banjir
Laporan RakyatNTT.ID menunjukkan bahwa sistem drainase di Kota Kupang tidak berfungsi optimal. Banyak saluran tersumbat oleh sampah dan sedimen, ukuran saluran tidak memadai, serta kurangnya pemeliharaan rutin menyebabkan air hujan sulit mengalir. Genangan bahkan muncul hanya dengan hujan intensitas sedang—indikasi bahwa daya tampung kota telah menurun drastis.
Masalah ini memicu keprihatinan Anggota DPRD Kota Kupang, Vicky Dimoe Heo, yang meminta Pemerintah Kota bergerak cepat. Ia menegaskan bahwa Dinas PUPR serta DLHK tidak boleh tinggal diam, karena genangan yang terus meningkat membuktikan bahwa kerja penanganan drainase belum efektif. Menurutnya, pemerintah harus bertindak sebelum kondisi semakin meluas dan merugikan warga, terutama menjelang puncak musim hujan.
Jika Kupang mengabaikan sinyal-sinyal kecil ini, potensi bencana bisa menyerupai kejadian di Sumatra. Banjir bandang di Sibolga, Sitoli, dan Medan terjadi akibat kombinasi hujan ekstrem, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), penumpukan sedimentasi, serta drainase yang tidak mampu menahan volume air besar. Denpasar juga mengalami genangan signifikan akibat minimnya ruang resapan dan saluran yang tertutup bangunan. Pola penyebabnya sama: lingkungan rusak, drainase buruk, dan hujan ekstrem sebagai pemicu.
Peringatan Penting
- • Sistem drainase Kota Kupang tidak berfungsi optimal
- • Genangan muncul bahkan dengan hujan intensitas sedang
- • Potensi bencana seperti banjir bandang di Sumatra
- • DPRD mendesak tindakan cepat dari Pemkot
Solusi & Rekomendasi
Untuk mencegah genangan berubah menjadi bencana, beberapa langkah mendesak perlu dilakukan:
1. Normalisasi dan Pelebaran Drainase
Pemerintah harus segera melakukan pengerukan sedimen, membuka saluran yang tersumbat, serta memperbesar dimensi drainase di titik-titik kritis seperti Oesapa, Kelapa Lima, Naikoten, dan Pasir Panjang.
2. Pengendalian Sampah dan Penegakan Aturan
DLHK harus memperketat pengawasan pembuangan sampah. Warga perlu diedukasi agar tidak membuang sampah ke saluran air. Penegakan sanksi menjadi keharusan.
3. Penataan Ruang Berbasis Resapan Air
Penggunaan lahan kota harus mengutamakan ruang terbuka hijau, kolam retensi, dan sumur resapan. Betonisasi masif harus dikurangi.
4. Audit Infrastruktur dan Manajemen Banjir
Dinas PUPR perlu memetakan ulang kapasitas drainase kota dan membuat rencana penanganan jangka panjang, bukan hanya bersifat reaktif setiap musim hujan.
5. Sistem Peringatan dan Edukasi Masyarakat
Pemerintah perlu memberikan informasi dini terkait cuaca ekstrem dan mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi potensi banjir.
Kesimpulan
Genangan air di Kota Kupang bukan masalah sepele, tetapi tanda kegagalan tata kelola air dan lingkungan yang harus segera dibenahi. Pernyataan tegas dari DPRD, khususnya dari Vicky Dimoe Heo, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menunggu bencana terjadi. Jika Kupang belajar dari kasus banjir bandang di Sumatra dan Denpasar, maka tindakan cepat dan terukur harus menjadi prioritas. Genangan hari ini adalah peringatan—dan hanya dengan penanganan serius, Kupang dapat mencegah bencana serupa di masa depan.
Sumber Pustaka
- 1. RakyatNTT.ID. "Jelang Nataru 2026, DPRD Kota Kupang Desak Pemkot Tangani Genangan Air yang Makin Meluas."
- 2. RakyatNTT.ID. Laporan drainase tersumbat dan genangan di berbagai kecamatan.
- 3. BNPB. Laporan banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara.
- 4. Detik.com & Tirto.id. Analisis penyebab banjir Sumatra dan Denpasar.



