Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa

OPINIBERITA NTT

Genangan Air Kota Kupang jangan anggap remeh— Belajar dari Banjir Bandang di Sumatra dan Daerah Lain

Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis

29 November 2025
349 pembaca
Genangan Air Kota Kupang

Pendahuluan

Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, Kota Kupang kembali menghadapi ancaman genangan air yang semakin meluas. Intensitas hujan meningkat sejak November 2025, dan banyak titik rawan—mulai dari jalan protokol hingga kawasan permukiman—telah tergenang. Situasi ini menjadi sorotan DPRD Kota Kupang, yang menilai bahwa genangan air bukan lagi persoalan musiman, melainkan pertanda nyata kegagalan tata kelola drainase dan lingkungan. Jika dibiarkan, genangan dapat berkembang menjadi bencana serius seperti banjir bandang yang baru-baru ini terjadi di Sibolga, Sitoli, Medan, hingga Denpasar.

Masalah Utama: Genangan Air dan Ancaman Banjir

Laporan RakyatNTT.ID menunjukkan bahwa sistem drainase di Kota Kupang tidak berfungsi optimal. Banyak saluran tersumbat oleh sampah dan sedimen, ukuran saluran tidak memadai, serta kurangnya pemeliharaan rutin menyebabkan air hujan sulit mengalir. Genangan bahkan muncul hanya dengan hujan intensitas sedang—indikasi bahwa daya tampung kota telah menurun drastis.

Masalah ini memicu keprihatinan Anggota DPRD Kota Kupang, Vicky Dimoe Heo, yang meminta Pemerintah Kota bergerak cepat. Ia menegaskan bahwa Dinas PUPR serta DLHK tidak boleh tinggal diam, karena genangan yang terus meningkat membuktikan bahwa kerja penanganan drainase belum efektif. Menurutnya, pemerintah harus bertindak sebelum kondisi semakin meluas dan merugikan warga, terutama menjelang puncak musim hujan.

Jika Kupang mengabaikan sinyal-sinyal kecil ini, potensi bencana bisa menyerupai kejadian di Sumatra. Banjir bandang di Sibolga, Sitoli, dan Medan terjadi akibat kombinasi hujan ekstrem, kerusakan daerah aliran sungai (DAS), penumpukan sedimentasi, serta drainase yang tidak mampu menahan volume air besar. Denpasar juga mengalami genangan signifikan akibat minimnya ruang resapan dan saluran yang tertutup bangunan. Pola penyebabnya sama: lingkungan rusak, drainase buruk, dan hujan ekstrem sebagai pemicu.

Peringatan Penting

  • • Sistem drainase Kota Kupang tidak berfungsi optimal
  • • Genangan muncul bahkan dengan hujan intensitas sedang
  • • Potensi bencana seperti banjir bandang di Sumatra
  • • DPRD mendesak tindakan cepat dari Pemkot

Solusi & Rekomendasi

Untuk mencegah genangan berubah menjadi bencana, beberapa langkah mendesak perlu dilakukan:

1. Normalisasi dan Pelebaran Drainase

Pemerintah harus segera melakukan pengerukan sedimen, membuka saluran yang tersumbat, serta memperbesar dimensi drainase di titik-titik kritis seperti Oesapa, Kelapa Lima, Naikoten, dan Pasir Panjang.

2. Pengendalian Sampah dan Penegakan Aturan

DLHK harus memperketat pengawasan pembuangan sampah. Warga perlu diedukasi agar tidak membuang sampah ke saluran air. Penegakan sanksi menjadi keharusan.

3. Penataan Ruang Berbasis Resapan Air

Penggunaan lahan kota harus mengutamakan ruang terbuka hijau, kolam retensi, dan sumur resapan. Betonisasi masif harus dikurangi.

4. Audit Infrastruktur dan Manajemen Banjir

Dinas PUPR perlu memetakan ulang kapasitas drainase kota dan membuat rencana penanganan jangka panjang, bukan hanya bersifat reaktif setiap musim hujan.

5. Sistem Peringatan dan Edukasi Masyarakat

Pemerintah perlu memberikan informasi dini terkait cuaca ekstrem dan mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi potensi banjir.

Kesimpulan

Genangan air di Kota Kupang bukan masalah sepele, tetapi tanda kegagalan tata kelola air dan lingkungan yang harus segera dibenahi. Pernyataan tegas dari DPRD, khususnya dari Vicky Dimoe Heo, menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menunggu bencana terjadi. Jika Kupang belajar dari kasus banjir bandang di Sumatra dan Denpasar, maka tindakan cepat dan terukur harus menjadi prioritas. Genangan hari ini adalah peringatan—dan hanya dengan penanganan serius, Kupang dapat mencegah bencana serupa di masa depan.

Sumber Pustaka

  1. 1. RakyatNTT.ID. "Jelang Nataru 2026, DPRD Kota Kupang Desak Pemkot Tangani Genangan Air yang Makin Meluas."
  2. 2. RakyatNTT.ID. Laporan drainase tersumbat dan genangan di berbagai kecamatan.
  3. 3. BNPB. Laporan banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara.
  4. 4. Detik.com & Tirto.id. Analisis penyebab banjir Sumatra dan Denpasar.

Artikel Terkait

Tantangan Pendapatan Daerah Kupang
BERITA NTT

Tantangan Pendapatan Daerah Kota Kupang 2026

APBD Kota Kupang 2026 turun 12,44% dengan 62% untuk belanja pegawai...

Frits R Dimu Heo
Wali Kota Kupang
BERITA NTT

Wali Kota Kupang Angkat Kearifan Lokal ke Panggung Dunia

Wali Kota Kupang tampil sebagai keynote speaker di forum global Shanghai...

Frits R Dimu Heo

Tinggalkan Komentar

0/500 karakter

Komentar (2)

Anonim

27 Jan 2026 • 08.00 UTC+0

56 hari yang lalu

Jangan anggap remeh dengan air hujan ibarat seperti buaya jika kecil masih aman namun jika besar maka timbul bencana. Saatnya Pemkot benahi sistem drainase, perpiaan dan sistem tangkap air peresapan.

Mazmur Bryan

30 Nov 2025 • 08.49 UTC+0

114 hari yang lalu

pung sadis le

Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa. Tempat berbagi cerita, refleksi, opini, analisis dan pandangan tentang kehidupan, iman, dan makna di tengah perjalanan waktu.

Kategori

Profil Penulis

Frits R Dimu Heo
Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis

Lulusan S1 Hukum dan S2 Program Pasca Sarjana Study Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bekerja di Bank NTT selama 30 tahun dan sekarang memilih menjadi pemerhati masalah sosial dan hukum.

Tinggal di Kota Kupang NTT menikmati hidup bersama keluarga (slow living).

© 2025 Perspektif Frits. Semua hak dilindungi.