Indonesia Bebas Tarif atau Bebas Harga Diri?
Frits R Dimu Heo, SH.MSi
25 Desember 2025

Ilustrasi kesepakatan dagang Indonesia dengan Amerika Serikat

Media inspirasi melawan lupa
Frits R Dimu Heo, SH.MSi
25 Desember 2025

Ilustrasi kesepakatan dagang Indonesia dengan Amerika Serikat
Pemerintah kembali merayakan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat: tarif ekspor kelapa sawit, kopi, dan kakao dibebaskan. Narasi resmi menyebut ini sebagai bukti kepiawaian diplomasi ekonomi dan fondasi ekonomi sehat menuju 2026. Namun, di balik selebrasi itu, publik patut bertanya: apakah ini benar strategi jangka panjang, atau sekadar keberhasilan kosmetik yang menutupi ketergantungan struktural Indonesia pada negara besar?
Sejarah ekonomi Indonesia mengajarkan satu hal: setiap kali ekspor bahan mentah "dilonggarkan", kita diminta membayar dengan sesuatu yang jauh lebih mahal—kali ini, mineral kritis.
Kesepakatan ini tidak berdiri sejajar. Indonesia membebaskan akses komoditas primer, sementara Amerika Serikat meminta akses ke sumber daya strategis masa depan. Sawit, kopi, dan kakao memang penting, tetapi mineral kritis adalah "emas baru" abad ke-21—penentu industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi pertahanan.
Masalahnya sederhana tapi serius: Indonesia kembali diposisikan sebagai penyedia bahan mentah, bukan pengendali rantai nilai. Ini bukan kesalahan teknis, melainkan kegagalan visi. Ketika pemerintah berbicara tentang ekonomi kuat 2026, yang terlihat justru ekonomi yang masih bergantung pada kemurahan hati pasar global dan keputusan negara besar.
Jika pejabat ekonomi menyebut diri ahli dan percaya diri, maka publik berhak menguji hasilnya. Faktanya, struktur ekspor Indonesia nyaris tidak berubah selama puluhan tahun. Bebas tarif hanya mempercepat arus keluar bahan mentah, bukan memperkuat industri nasional.
Vietnam: Negara ini tidak sibuk merayakan bebas tarif, melainkan menggunakan perjanjian dagang sebagai alat pemaksaan industrialisasi. Barang setengah jadi dan produk akhir mendominasi ekspornya. Vietnam tidak menjual mimpi, tetapi pabrik, teknologi, dan lapangan kerja.
Brasil: Meski kaya komoditas, negara ini sadar bahwa menjual mentah adalah jalan pintas menuju stagnasi. Brasil mendorong pengolahan pangan, bioenergi, dan industri turunannya. Mereka menjual produk bernilai tambah, bukan hanya kebanggaan statistik ekspor.
India: Negara ini tidak segan menunda, menawar ulang, atau menolak kesepakatan jika tidak menguntungkan industrinya. "Make in India" bukan slogan kosong, tetapi kebijakan protektif yang jelas arahnya. India tahu bahwa kedaulatan ekonomi tidak dibangun dari pujian mitra dagang, melainkan dari kemampuan memproduksi sendiri.
Indonesia? Kita tampak puas ketika bahan mentah diterima tanpa tarif, seolah itu puncak pencapaian. Padahal, negara lain menjadikan fase itu sebagai batu loncatan, bukan garis finis. Ironisnya, saat rakyat diminta percaya pada narasi ekonomi kuat, yang terjadi justru pengulangan pola ekonomi kolonial: kirim mentah, beli mahal.
Pertama, pemerintah harus berhenti menjual narasi keberhasilan yang dangkal. Bebas tarif tanpa hilirisasi hanyalah keuntungan jangka pendek dengan biaya jangka panjang.
Kedua, akses mineral kritis tidak boleh diberikan tanpa syarat keras: pembangunan industri lanjutan di dalam negeri, transfer teknologi nyata, dan keterlibatan tenaga kerja lokal. Jika tidak, Indonesia sedang menyerahkan masa depannya dengan harga diskon.
Ketiga, elite ekonomi perlu menjawab pertanyaan sederhana: jika benar kita "jago", mengapa ekspor unggulan kita masih itu-itu saja? Keahlian sejati terlihat dari perubahan struktur ekonomi, bukan dari konferensi pers.
Kesepakatan bebas tarif Indonesia–Amerika Serikat memperlihatkan bahwa masalah utama ekonomi Indonesia bukan kekurangan peluang, melainkan kekurangan keberanian politik. Selama bahan mentah masih dianggap prestasi, selama akses sumber daya strategis dilepas tanpa visi industri, maka klaim ekonomi kuat hanyalah retorika.
Pertanyaannya bukan lagi kapan ekonomi Indonesia tumbuh, tetapi untuk siapa pertumbuhan itu bekerja. Jika jawabannya masih untuk mitra dagang yang menguasai teknologi dan nilai tambah, maka bebas tarif ini bukan kemenangan—melainkan pengingat pahit bahwa Indonesia masih belum benar-benar merdeka secara ekonomi.

Tidak ada kebijakan ekonomi yang netral, dan stabilitas yang dilepaskan dari agenda transformasi hanyalah bentuk penundaan sejarah...

Menkeu Purbaya terima aset rampasan Rp 300 triliun dari korupsi tambang. Saatnya rakyat kawal uang negara...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!