Pendahuluan
Musim hujan 2025/2026 telah tiba di NTT. Bagi provinsi yang sebagian besar wilayahnya bertumpu pada lahan semi arit dan kering, hujan bukan sekedar cuaca tetapi kesempatan emas. Setiap tetes hujan menentukan keberhasilan musim tanam, dan karenanya pemerintah daerah seharusnya bergerak cepat memastikan petani siap memulai. Pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah sudah benar-benar menyiapkan musim tanam? Atau justru masih terjebak dalam kegiatan seremoni tanpa hasil nyata?
Masalah: Langkah Ada, Tapi Belum Menyentuh Akar Persoalan
Di atas kertas, pemerintah daerah sudah melakukan berbagai langkah: menyiapkan benih, menggerakkan tanam serentak, mempromosikan pupuk hayati, dan melanjutkan program jagung. Namun di lapangan, persoalan mendasar masih terjadi:
- Ketergantungan pada hujan tanpa teknologi penghematan air.
- Minimnya irigasi hemat air, tadah hujan, dan embung mikro yang benar-benar berfungsi.
- Pendampingan teknologi rendah, sehingga petani kembali bertani dengan pola lama.
- Harga dan pasar tidak stabil, membuat petani enggan berproduksi besar-besaran.
- Program lebih banyak seremoni, belum membentuk sistem pertanian yang utuh dan berkelanjutan.
Pakar pertanian seperti Tony Basuki sejak lama menegaskan bahwa pertanian NTT hanya bisa maju jika tanah dan air dikelola secara presisi—bukan sekedar menambah hektar tanam.
Solusi: Dari Teknologi hingga Gerakan Bersama
Terobosan besar sebenarnya sudah mulai tampak dari masyarakat sendiri. PTI NTT di bawah kepemimpinan Bobby Lianto melakukan penanaman jagung 150 hektare di Lanud El Tari Kupang, yang akan diperluas menjadi 1.000 hektare. Ini bukti bahwa ketika masyarakat bergerak, perubahan bisa dimulai bahkan tanpa menunggu birokrasi.
Di sisi lain, akademisi UNDANA mendorong pertanian berbasis data: sensor kelembapan tanah, kalender tanam ilmiah, dan monitoring curah hujan. Sementara itu, gagasan Tony Basuki tentang konservasi tanah dan varietas adaptif tetap relevan untuk diterapkan secara massal.
Belajar dari Israel
Dan satu contoh sukses dunia yang tak boleh diabaikan: pertanian Israel, terutama model Kibbutz dan penggunaan drip irrigation. Israel membuktikan bahwa pertanian di gurun bisa mengalahkan keterbatasan air dengan: kerja kolektif, manajemen profesional, efisiensi air ekstrem, dan teknologi yang tepat guna.
NTT memiliki iklim mirip: kering, panas, curah hujan pendek. Karena itu, meniru Israel bukan hanya masuk akal, tetapi mendesak.
Rekomendasi: Arah Kebijakan yang Harus Diambil NTT
1. Bangun kalender tanam berbasis data BMKG–UNDANA–BRIN
Kalender tanam harus ditentukan secara ilmiah, bukan perkiraan.
2. Terapkan irigasi tetes, embung mikro, dan panen hujan secara besar-besaran
Target utamanya: setiap hektare punya sumber air kecil yang efisien.
3. Kembangkan koperasi tani modern mirip model Kibbutz
Kelompok tani harus dikelola profesional dengan pembagian hasil yang adil.
4. Perkuat akses modal, asuransi pertanian, dan pasar hasil panen
Petani tidak boleh lagi berjudi dengan harga pasar.
5. Skalakan gerakan PTI NTT
Inisiatif seperti penanaman jagung di Lanud harus jadi model sinergi pemuda–masyarakat–pemerintah.
Kesimpulan
Pemerintah NTT memang tidak diam, tetapi langkah yang ada masih belum menjawab akar persoalan. Musim hujan yang datang lebih awal ini adalah kesempatan besar, sekaligus ujian apakah NTT siap beralih dari pola lama menuju sistem pertanian modern.
Jika pemerintah daerah berani menggabungkan riset lokal, inisiatif masyarakat seperti PTI, dan teknologi global seperti model Kibbutz Israel, maka NTT bukan saja siap musim tanam—tetapi siap memasuki era baru pertanian efisien, modern, dan menyejahterakan petani serta menuju swasembada pangan terutama jagung.
Sumber Pustaka
- 1. BMKG NTT – Prakiraan Musim Hujan 2025/2026.
- 2. Distankp NTT – Data Kesiapan Benih & Program Tanam Serentak.
- 3. Panennews.com – Pemuda Tani NTT Tanam Jagung Perdana di Lahan TNI AU Lanud El Tari Kupang.
- 4. ExpoNTT.com – Program 1.000 Ha Jagung oleh PTI NTT.
- 5. Tony Basuki – Teknologi Pertanian Lahan Kering & Pengelolaan Tanah Hitam NTT.
- 6. UNDANA – Kajian Smart Farming NTT.
- 7. Studi pertanian Israel: model Kibbutz & drip irrigation.



