Pantaskah WHO Disingkirkan?

Pendahuluan
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik negaranya keluar dari World Health Organization (WHO) bukanlah tanpa sebab. Hal ini lahir dari akumulasi kekecewaan dunia terhadap cara kerja WHO menangani pandemi COVID-19. Menariknya, sebelum Presiden Trump bereaksi, kritikan tajam sebelumnya pernah dilontarkan oleh Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan pada awal pandemi. Meski Indonesia tidak tegas keluar dari WHO, perdebatan internal menunjukkan adanya kegelisahan serius terhadap otoritas dan cara kerja lembaga kesehatan global tersebut.
Masalah
Kritik keras kepada WHO karena dinilai terlalu lamban di awal pandemi, terlalu bergantung pada informasi negara tertentu, serta menerapkan pendekatan seragam yang tidak selamanya cocok dengan kondisi nasional. Trump menuduh WHO tidak independen dan membebani AS secara finansial. Di Indonesia, Terawan mengemukakan kritik yang lebih substantif: WHO dianggap terlalu cepat menetapkan status pandemi dan menciptakan kepanikan global yang berlebihan.
Terawan secara terang terangan menyatakan bahwa pendekatan internasional kerap tidak mempertimbangkan realitas lokal dan bahkan Ia menantang narasi ilmiah global yang meragukan data Indonesia dengan pernyataan terkenal:
"Biarkan Harvard datang ke sini. Pintu terbuka. Tidak ada yang kami sembunyikan."
Selain itu, ia juga menilai penetapan pandemi oleh WHO berdampak psikologis dan ekonomi besar, dengan menyebut bahwa WHO "terlalu cepat menyatakan pandemi dan menimbulkan ketakutan" di banyak negara.
Analisis
Kritik Terawan memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia menyuarakan kegelisahan yang sah: WHO memang bukan institusi tanpa cela. Ketergantungan pada laporan negara anggota, birokrasi panjang, dan komunikasi risiko yang kaku menjadi kelemahan nyata. Kritik terhadap "one size fits all policy" layak dipertimbangkan, terutama bagi negara berkembang dengan karakter sosial dan kapasitas berbeda.
Namun, di sisi lain, pendekatan Terawan juga menuai kritik karena dinilai meremehkan ancaman COVID-19 pada fase awal. Sejumlah pernyataannya bertentangan dengan konsensus ilmiah global dan dinilai memperlambat kesadaran publik. Di titik inilah perbedaan mendasar muncul: antara kritik konstruktif terhadap WHO dan penolakan terhadap sains berbasis bukti.
Trump memilih jalan ekstrem dengan keluar dari WHO. Sedangkan Indonesia, meski memiliki tokoh yang sangat kritis seperti Terawan, memilih tetap berada di dalam sistem multilateral. Ini menunjukkan sikap yang lebih pragmatis: mengakui kelemahan WHO, tetapi tidak menafikan perannya.
Rekomendasi
Indonesia perlu mengambil jalan tengah yang tegas. Pertama, tetap aktif di WHO sambil mendorong reformasi nyata, terutama soal transparansi dan independensi. Kedua, memperkuat kapasitas nasional agar rekomendasi global tidak diterima mentah-mentah, tetapi disesuaikan dengan konteks lokal. Ketiga, kritik seperti yang disampaikan Terawan harus ditempatkan dalam kerangka ilmiah, bukan sekadar kontra terhadap lembaga global.
Kesimpulan
Kritik Terawan terhadap WHO mencerminkan kegelisahan yang juga mendorong Trump keluar dari organisasi tersebut. Namun pengalaman pandemi menunjukkan bahwa meninggalkan WHO bukan solusi. Bagi Indonesia, tantangannya bukan memilih antara tunduk atau menolak WHO, melainkan bagaimana bersikap kritis, mandiri, dan tetap terlibat dalam kerja sama kesehatan global yang semakin tak terelakkan.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Constitution of the World Health Organization.
- Pernyataan publik Terawan Agus Putranto terkait COVID-19 (2020).
- Kementerian Kesehatan RI. Kerja Sama Indonesia–WHO.
- Gostin, L. O. Global Health Law.

