Selat Hormuz Ditutup: Apakah Indonesia Miskin?
Frits R Dimu Heo, SH.MSi
Penulis & Analis

Permasalahan
Selat Hormuz adalah salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini. Jika suatu saat konflik geopolitik menyebabkan Selat Hormuz ditutup, dunia akan menghadapi guncangan energi yang sangat besar. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah Indonesia berisiko menjadi miskin jika skenario ini terjadi?
Secara langsung, Indonesia mungkin tidak runtuh menjadi negara miskin. Namun, dampak ekonominya bisa sangat serius dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Guncangan Energi Global
Penutupan Selat Hormuz akan langsung mengurangi pasokan minyak dunia dalam jumlah besar. Ketika pasokan turun drastis sementara permintaan tetap tinggi, harga minyak global hampir pasti melonjak tajam.
Dalam banyak simulasi ekonomi internasional, harga minyak bisa melonjak dari kisaran normal menjadi dua kali lipat atau bahkan lebih. Negara-negara yang bergantung pada impor energi akan paling merasakan dampaknya.
Indonesia termasuk negara yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar transportasi dan industri.
Efek Domino ke Ekonomi Indonesia
Lonjakan harga minyak akan memicu efek berantai pada perekonomian nasional.
Pertama, harga BBM akan naik atau subsidi pemerintah akan membengkak. Kedua pilihan ini sama-sama berat. Jika harga BBM naik, biaya transportasi dan produksi ikut melonjak. Jika subsidi diperbesar, anggaran negara bisa tertekan.
Kedua, inflasi akan meningkat. Harga pangan, logistik, dan kebutuhan sehari-hari ikut naik karena biaya distribusi menjadi lebih mahal.
Ketiga, daya beli masyarakat dapat turun. Ketika harga barang naik sementara pendapatan tidak ikut naik, masyarakat akan mengurangi konsumsi.
Dalam situasi ekstrem, kondisi ini bisa membuat sebagian masyarakat jatuh ke dalam kemiskinan baru, meskipun negara secara keseluruhan tidak bangkrut.
Ancaman Terhadap Ketahanan Pangan
Krisis energi tidak hanya soal BBM. Banyak sektor pangan modern sangat bergantung pada energi.
Contohnya: transportasi distribusi pangan, pupuk berbasis energi, mesin pertanian, dan rantai pendingin makanan.
Jika energi mahal, biaya produksi pangan ikut meningkat. Dalam situasi global yang tidak stabil, beberapa negara bahkan bisa membatasi ekspor pangan mereka untuk melindungi pasar domestik.
Di sinilah risiko nyata muncul: krisis energi bisa berubah menjadi krisis pangan.
Apakah Solusinya Setiap Keluarga Harus Bertani?
Gagasan bahwa setiap keluarga menanam pangan sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang berlebihan. Dalam sejarah krisis global, banyak negara mendorong konsep ketahanan pangan rumah tangga.
Contohnya pernah terjadi pada masa perang dunia dengan konsep victory garden, di mana masyarakat menanam sayuran di halaman rumah.
Namun bukan berarti semua keluarga harus menjadi petani penuh waktu.
Yang lebih realistis adalah: menanam sebagian kebutuhan pangan sendiri, mengurangi ketergantungan pada pasar, dan memperkuat produksi lokal di desa dan kota.
Model ini sering disebut ketahanan pangan berbasis komunitas.
Strategi Bertahan yang Lebih Rasional
1. Diversifikasi energi
Mengurangi ketergantungan pada minyak impor dengan memperkuat energi alternatif seperti panas bumi, surya, dan biofuel.
2. Pertanian lokal kuat
Produksi pangan harus diperkuat di tingkat daerah agar tidak terlalu bergantung pada impor dan rantai pasok jarak jauh.
3. Urban farming
Kota bisa memproduksi sebagian sayur dan pangan melalui kebun rumah, hidroponik, atau kebun komunitas.
4. Penguatan ekonomi desa
Desa menjadi pusat produksi pangan nasional sehingga krisis global tidak langsung memukul kebutuhan dasar masyarakat.
Krisis Sebagai Pengingat
Skenario penutupan Selat Hormuz mungkin terdengar jauh, tetapi krisis global sering muncul secara tiba-tiba. Pandemi COVID-19 dan perang di berbagai kawasan dunia menunjukkan bahwa rantai pasokan global sangat rapuh.
Karena itu, krisis semacam ini seharusnya menjadi pengingat penting bagi Indonesia.
Negara yang kuat bukan hanya negara dengan ekonomi besar, tetapi negara yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri ketika dunia sedang kacau.
Dan mungkin di masa depan, halaman rumah yang ditanami cabai, sayur, atau umbi-umbian bukan sekadar hobi—tetapi bagian dari strategi bertahan hidup sebuah bangsa.
Daftar Pustaka
- BP. 2023. Statistical Review of World Energy.
- International Energy Agency (IEA). 2022. World Energy Outlook.
- U.S. Energy Information Administration (EIA). 2023. World Oil Transit Chokepoints.
- Food and Agriculture Organization (FAO). 2022. The State of Food Security and Nutrition in the World.
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. 2023. Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia.


