Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa

Daerah5 Maret 2026
167 pembaca

WASPADA KRISIS ENERGI DAN PANGAN DI NTT !!

Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis & Analis

Waspada Krisis Energi dan Pangan di NTT

Permasalahan

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia, khususnya di Selat Hormuz, mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Selat ini merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia. Jika terjadi gangguan distribusi, harga energi global akan meningkat dan berdampak langsung pada biaya transportasi serta distribusi barang.

Di Indonesia, gejala tekanan ekonomi sudah mulai terlihat. Selain munculnya kelangkaan gas elpiji 20 kg di beberapa daerah, masyarakat juga menghadapi lonjakan harga bahan pangan menjelang Ramadan dan Lebaran. Momentum ini memang secara musiman meningkatkan permintaan konsumsi rumah tangga.

Data harga pangan nasional menunjukkan beberapa komoditas mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Harga cabai rawit merah misalnya, pada Januari berada di kisaran Rp55.000 per kilogram, namun pada awal Maret meningkat menjadi sekitar Rp75.000–Rp80.000 per kilogram (naik sekitar 40%).

Harga bawang merah naik dari sekitar Rp32.000 per kilogram pada Januari menjadi sekitar Rp42.000–Rp45.000 per kilogram pada awal Maret. Bawang putih naik dari sekitar Rp32.000 per kilogram menjadi sekitar Rp38.000–Rp40.000 per kilogram.

Minyak goreng kemasan sederhana yang pada Januari berada di kisaran Rp17.000 per liter kini naik menjadi sekitar Rp20.000–Rp22.000 per liter. Harga beras medium juga naik dari sekitar Rp13.000 per kilogram menjadi sekitar Rp14.500–Rp15.500 per kilogram menjelang Ramadan.

Kenaikan harga tersebut memperlihatkan tekanan yang cukup nyata terhadap daya beli masyarakat. Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi, maka masyarakat berpenghasilan rendah akan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan pokok.

Analisa

Kenaikan harga pangan menjelang Lebaran sebenarnya merupakan fenomena yang berulang setiap tahun. Permintaan masyarakat meningkat karena konsumsi rumah tangga bertambah, aktivitas usaha makanan meningkat, dan adanya tradisi sosial masyarakat selama Ramadan.

Namun kondisi tahun ini memiliki risiko tambahan karena adanya tekanan dari sektor energi global. Jika harga minyak dunia meningkat akibat gangguan distribusi internasional, maka biaya transportasi akan ikut naik. Hal ini sangat berpengaruh terhadap wilayah kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sebagian besar kebutuhan pangannya masih didatangkan dari luar daerah.

NTT sangat bergantung pada transportasi laut untuk distribusi beras, bawang, minyak goreng, gula, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan biaya logistik akan langsung tercermin pada harga di pasar tradisional.

Kelangkaan gas elpiji juga dapat memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga dan usaha kecil. Banyak pedagang makanan dan UMKM bergantung pada LPG untuk aktivitas produksi. Jika gas sulit diperoleh atau harganya meningkat, maka biaya usaha akan ikut naik dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

Kombinasi antara kenaikan harga energi, lonjakan harga pangan, dan peningkatan konsumsi menjelang Lebaran dapat menimbulkan tekanan inflasi daerah. Jika tidak dikendalikan sejak dini, kondisi ini berpotensi memicu kerentanan pangan di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.

Kesimpulan

Kenaikan harga pangan dan kelangkaan energi yang mulai dirasakan masyarakat merupakan sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah antisipatif. Provinsi NTT sebagai wilayah kepulauan memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap gangguan distribusi energi dan logistik pangan.

Jika pemerintah terlambat merespons situasi ini, maka lonjakan harga sembako dapat semakin meningkat dan berpotensi memperburuk kondisi kesejahteraan masyarakat.

Usul dan Saran

1. Operasi pasar dan stabilisasi harga

Lakukan operasi pasar untuk komoditas utama seperti beras, minyak goreng, cabai, dan bawang agar tekanan harga tidak memukul rumah tangga berpenghasilan rendah.

2. Pastikan distribusi LPG 3 kg tetap lancar

Jaga pasokan dan distribusi LPG 3 kg untuk rumah tangga dan UMKM agar biaya produksi usaha kecil tidak melonjak.

3. Perkuat cadangan pangan daerah

Perkuat stok melalui kerja sama dengan Bulog serta kebijakan distribusi yang cepat ke titik rawan harga.

4. Tingkatkan produksi pangan lokal

Dorong produksi cabai, bawang, dan hortikultura melalui dukungan bibit, irigasi sederhana, dan pendampingan agar ketergantungan pasok dari luar berkurang.

Daftar Pustaka

  1. Badan Pusat Statistik. 2025–2026. Statistik Harga Konsumen Indonesia.
  2. Bank Indonesia. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional.
  3. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Data Harga Pangan Nasional.
  4. International Energy Agency. World Energy Outlook.

Bagikan Artikel

Tinggalkan Komentar

0/500 karakter

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa. Tempat berbagi cerita, refleksi, opini, analisis dan pandangan tentang kehidupan, iman, dan makna di tengah perjalanan waktu.

Kategori

Profil Penulis

Frits R Dimu Heo
Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis

Lulusan S1 Hukum dan S2 Program Pasca Sarjana Study Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bekerja di Bank NTT selama 30 tahun dan sekarang memilih menjadi pemerhati masalah sosial dan hukum.

Tinggal di Kota Kupang NTT menikmati hidup bersama keluarga (slow living).

© 2025 Perspektif Frits. Semua hak dilindungi.