DAHULU KAWAN SEKARANG MUSUH
Frits R Dimu Heo, SH.MSi
Penulis & Analis

Pendahuluan & Sejarah Kedua Bangsa
Hubungan antara Persia dan Israel adalah salah satu ironi terbesar dalam sejarah dunia. Dalam Alkitab, Persia justru tampil sebagai penyelamat bangsa Israel. Raja Koresh Agung membuka jalan bagi orang Yahudi untuk kembali dari pembuangan Babel dan membangun kembali Yerusalem. Tokoh-tokoh seperti Daniel hidup dan berpengaruh di pemerintahan Persia, sementara Ester dan Mordekhai menjadi simbol penyelamatan bangsa Yahudi dari kehancuran.
Pada masa itu, Persia bukan musuh, melainkan alat Tuhan. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, hubungan Persia–Israel dibangun di atas perlindungan dan bahkan solidaritas.
Namun sejarah modern menunjukkan arah yang berbeda. Setelah Israel berdiri pada 1948, Iran di bawah Shah justru menjalin hubungan strategis dengan Israel. Kerjasama meliputi militer, intelijen, pertanian, dan energi. Israel membantu teknologi irigasi Iran, sementara Iran memasok minyak bagi Israel. Kedua negara memiliki musuh yang sama: tekanan dari negara-negara Arab.
Semua berubah drastis pada Revolusi Iran 1979. Iran menjadi negara teokratik yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini dan dilanjutkan oleh Ali Khamenei. Sejak itu, Israel bukan lagi sekutu, tetapi dianggap musuh ideologis yang harus dilenyapkan. Iran mulai mendukung kelompok seperti Hezbollah dan Hamas sebagai perpanjangan tangan melawan Israel.
Analisa: Dari Ideologi ke Perang Terbuka 2026
Perubahan hubungan ini mencapai titik ekstrem pada tahun 2026. Pada 28 Februari 2026, perang besar pecah ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Operasi ini bukan sekadar serangan militer biasa, tetapi serangan "decapitation strike" yang menargetkan pucuk pimpinan Iran.
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat tinggi lainnya. Bahkan, laporan menyebut sekitar 40 tokoh penting Iran tewas dalam serangan yang dirancang dengan koordinasi intelijen antara Mossad dan CIA. Perang ini kemudian berkembang menjadi konflik regional besar. Iran membalas dengan serangan rudal ke Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah, serta mencoba memblokir Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan energi dunia.
Namun menariknya, meskipun kepemimpinan Iran dihantam, rezim tidak runtuh. Struktur kekuasaan tetap bertahan, bahkan menjadi lebih keras di bawah pengaruh Garda Revolusi Iran. Ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya soal militer, tetapi juga ketahanan ideologi.
Fakta Penting Perang 2026
- 1Perang dimulai 28 Februari 2026 oleh AS–Israel
- 2Khamenei tewas dalam serangan awal
- 3Puluhan elite militer dan politik Iran dieliminasi (sekitar 40 tokoh)
- 4Iran membalas melalui serangan langsung dan proxy ke Israel & pangkalan AS
- 5Iran berupaya memblokir Selat Hormuz yang vital bagi energi dunia
- 6Rezim Iran tetap bertahan meski kepemimpinannya dihantam
Kesimpulan
Sejarah Persia dan Israel adalah bukti bahwa hubungan antarbangsa bisa berubah secara ekstrem. Dari penyelamat dalam Alkitab, menjadi sekutu strategis di abad modern, hingga akhirnya menjadi musuh ideologis yang terlibat perang terbuka.
Perang 2026 memperlihatkan puncak dari konflik panjang yang dipicu oleh perubahan ideologi, bukan sekadar kepentingan politik. Kematian Khamenei dan puluhan elite Iran bukan akhir konflik, tetapi justru membuka babak baru yang lebih berbahaya.
Ironinya, bangsa yang dahulu dipakai Tuhan untuk menyelamatkan Israel, kini menjadi ancaman eksistensial bagi negara tersebut.
Daftar Pustaka
- Alkitab (Kitab Ezra, Daniel, Ester)
- Bernard Lewis, The Middle East: A Brief History
- Michael Axworthy, A History of Iran
- Reuters, laporan konflik Iran–Israel 2026
- The Guardian, laporan kematian Khamenei
- The Guardian Data konflik Iran 2026 dan Selat Hormuz
- Laporan intelijen dan serangan terhadap elite Iran


