Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa

Nasional30 April 2026
815 pembaca

Mengapa Indonesia Kalah dari Israel dalam Energi?

Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis & Analis

Mengapa Indonesia Kalah dari Israel dalam Energi?

Pendahuluan

Ini fakta yang pahit: Indonesia, negeri dengan minyak, gas, batubara, dan matahari sepanjang tahun, justru limbung setiap kali harga energi dunia naik. Sementara Israel — negara yang bahkan tidak dikenal sebagai raksasa minyak — mampu berdiri lebih stabil. Ini bukan soal nasib. Ini soal kegagalan memilih jalan.

Analisa

Mari bicara jujur. Indonesia bukan kekurangan energi. Indonesia kelebihan alasan.

Israel tahu satu hal: ketergantungan adalah kelemahan. Mereka tidak punya minyak, tetapi mereka tidak meratap. Mereka berinvestasi, mengeksplorasi, dan akhirnya menemukan serta memaksimalkan gas dari ladang seperti Leviathan gas field dan Tamar gas field. Hasilnya? Listrik mereka berdiri di atas kaki sendiri.

Indonesia? Kita punya semuanya — kecuali keberanian.

Kita impor BBM dalam jumlah besar, lalu menutupinya dengan subsidi raksasa. Kita tahu ini membebani negara, tapi tetap dilakukan. Mengapa? Karena menaikkan harga BBM lebih berisiko secara politik daripada membiarkan masalah membusuk secara ekonomi.

Lebih ironis lagi, gas kita sendiri sering lebih cepat dijual ke luar negeri daripada digunakan untuk memperkuat industri dalam negeri. Kita mengekspor kekuatan, lalu mengimpor ketergantungan. Ini bukan strategi. Ini kontradiksi.

Setiap krisis energi selalu direspons dengan pola yang sama: panik, tambal sulam, lalu lupa. Tidak ada lompatan kebijakan, tidak ada perubahan arah yang berani. Sementara Israel memperlakukan energi sebagai isu kedaulatan, Indonesia memperlakukannya sebagai isu popularitas.

Dan di sinilah letak masalah paling dalam: kita tidak kekurangan sumber daya, kita kekurangan ketegasan.

Kesimpulan

Perbandingan ini seharusnya memalukan. Negara tanpa minyak bisa lebih siap menghadapi krisis dibanding negara yang duduk di atas kekayaan energi. Artinya jelas: yang gagal bukan sumber daya, tetapi kepemimpinan dan arah kebijakan.

Rekomendasi

  1. Hentikan ilusi bahwa subsidi adalah solusi jangka panjang.
  2. Paksa hilirisasi energi berjalan, bukan sekadar slogan.
  3. Gunakan gas domestik untuk industri dan listrik nasional.
  4. Bangun keberanian politik untuk mengambil keputusan tidak populer.

Tips (Realitas yang Harus Diterima)

  1. Energi murah yang tidak berkelanjutan adalah bom waktu.
  2. Impor BBM bukan hanya masalah ekonomi, tapi harga diri bangsa.
  3. Tidak ada negara maju yang membangun ketahanan energi dengan kompromi politik.
  4. Jika tidak berubah sekarang, Indonesia akan terus mengulang krisis yang sama.

Daftar Pustaka

  1. International Energy Agency (IEA).
  2. World Bank Energy Data.
  3. BP Statistical Review of World Energy.
  4. Kementerian ESDM Republik Indonesia.
  5. Laporan sektor energi Israel.

Bagikan Artikel

Tinggalkan Komentar

0/500 karakter

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Perspektif Frits Logo

Perspektif Frits

Media inspirasi melawan lupa. Tempat berbagi cerita, refleksi, opini, analisis dan pandangan tentang kehidupan, iman, dan makna di tengah perjalanan waktu.

Kategori

Profil Penulis

Frits R Dimu Heo
Frits R Dimu Heo, SH.MSi

Penulis

Lulusan S1 Hukum dan S2 Program Pasca Sarjana Study Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Bekerja di Bank NTT selama 30 tahun dan sekarang memilih menjadi pemerhati masalah sosial dan hukum.

Tinggal di Kota Kupang NTT menikmati hidup bersama keluarga (slow living).

© 2025 Perspektif Frits. Semua hak dilindungi.